SEPUTARBANK JAKARTA - Binus University merayakan hari jadinya ke 45 tahun. Melalui XPloo (BINUS Center of Excellence in Digital Transformation & Sustainability), Binus University meluncurkan karya tulis ilmiah-praktis terbarunya
Bekerja sama dengan PT Bank Central Asia Tbk. (BCA), peluncuran studi kasus berjudul “Leading the Digital Shift: How Halo BCA Turned Strategic Vision into Operational Reality” ini digelar di Wisma BCA Foresta, BSD.
Peluncuran ini merupakan rangkaian dari perayaan 45 tahun perjalanan BINUS University berkarya.
Studi kasus ini mendokumentasikan perjalanan Halo BCA dalam mengeksekusi visi transformasi digital menjadi kenyataan operasional.
Bukan sekadar pamer canggihnya teknologi, tulisan ini membedah bagaimana arah strategis organisasi diterjemahkan lewat sejumlah langkah, diantaranya penguatan kapabilitas & penyelarasan proses kerja, pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan budaya kerja, dan transisi layanan yang berorientasi penuh pada kebutuhan nasabah.
Penerbitan narasi Halo BCA ini menandai studi kasus ketiga yang digarap oleh XPloo bersama BCA. Tiga karya ini menghadirkan perspektif utuh tentang bagaimana sebuah raksasa perbankan menjaga bisnis utamanya sembari berinovasi:
Digital Transformation at BCA (A): Mendokumentasikan fondasi perjalanan transformasi digital BCA secara makro.
Digital Transformation at BCA (B): Membedah pengembangan neobank blu by BCA Digital.
Leading the Digital Shift (Halo BCA): Menyoroti eksekusi transformasi pada lini garda terdepan (customer service) yang bersentuhan langsung dengan nasabah.
Transformasi digital sering kali disalahartikan sebatas adopsi teknologi baru. Padahal, tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana menghubungkan kepemimpinan dan strategi ke dalam operasional sehari-hari.
"Transformasi digital tidak berhenti ketika sebuah organisasi berhasil mengadopsi teknologi. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana visi tersebut diterjemahkan menjadi cara kerja, kapabilitas, budaya, dan pengalaman layanan yang dapat dirasakan secara nyata," ujar Prof. Firdaus Alamsjah, Ph.D., Ketua XPloo BINUS.
Ia menambahkan bahwa Indonesia memerlukan lebih banyak studi kasus berbasis pengalaman organisasi lokal. Dengan begitu, akademisi maupun eksekutif dapat belajar dari kompleksitas dan karakter nyata pasar Indonesia, bukan sekadar mengekor praktik global.
Penyusunan studi kasus ini sejalan dengan filosofi XPloo (berasal dari kata exploit dan explore). Dalam menghadapi dinamika zaman, organisasi dituntut untuk mengoptimalkan bisnis yang sudah berjalan (exploit) sekaligus mengeksplorasi peluang dan kapabilitas baru (explore).
Perwakilan Board of Management BINA NUSANTARA, Michael Wijaya Hadipoespito, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata komitmen BINUS dalam membina dan memberdayakan masyarakat melalui pengetahuan yang relevan.
"Kolaborasi ini sejalan dengan visi BINUS untuk membina dan memberdayakan masyarakat dalam membangun dan melayani bangsa, melalui pengetahuan yang relevan, inovasi, dan kontribusi yang memberikan dampak positif bagi Indonesia," tutur Michael.
Dari kacamata industri, Armand W. Hartono, Wakil Presiden Direktur BCA, menyambut baik dokumentasi ini sebagai refleksi atas perjalanan insan BCA dalam menyelaraskan manusia, proses, dan teknologi.
"Bagi BCA, transformasi digital bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan teknologi, proses kerja, dan pengembangan insan BCA berjalan selaras untuk memberikan pengalaman layanan yang semakin relevan bagi nasabah," ungkap Armand.
Selain menjadi referensi akademik dan praktis, peluncuran karya ini diposisikan sebagai "hadiah pemikiran" dari BINUS di usianya yang ke-45.
Acara peresmian (Case Release) ini dihadiri oleh jajaran pimpinan kunci dari kedua belah pihak, yakni perwakilan BCA :Armand W. Hartono, David Formula, Dr. Wani Sabu, dan Adrianus Wagimin.
Kemudian perwakilan BINA NUSANTARA & XPloo: Michael Wijaya Hadipoespito, Prof. Firdaus Alamsjah, Ph.D., serta tim penyusun XPloo.
Melalui kolaborasi ini, BINUS dan BCA berharap dapat memicu lebih banyak lahirnya praktik transformasi digital berstandar tinggi di Indonesia—sebuah transformasi yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga berdampak pada manusia, organisasi, dan keberlanjutan masa depan.