SEPUTARBANK, BANTEN – Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar Workshop Sharia Insurance Career Bootcamp dengan tema “Menghubungkan Potensi Mahasiswa dengan Realita Industri Asuransi Syariah”, Senin (10/8/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Erwin Noekman, Duta Kehormatan Chartered Insurance Institute (CII) untuk Takaful Indonesia , sebagai narasumber. Erwin yang juga menjabat sebagai Associate Director - Retakaful di PT Pialang Reasuransi Dekai Indonesia menyoroti pentingnya menjembatani keilmuan mahasiswa dengan kebutuhan nyata industri asuransi syariah.
Menurut Erwin, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempertemukan pengetahuan akademik yang diperoleh mahasiswa dengan kompetensi, keterampilan, dan standar profesional yang dibutuhkan dunia kerja.
Dalam pandanganya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami konsep dasar asuransi syariah, akad, prinsip tolong-menolong (ta’awun), pengelolaan dana tabarru’, maupun aspek fikih muamalah secara teoritis.
"Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana prinsip-prinsip tersebut diterapkan dalam praktik operasional perusahaan, mulai dari pengembangan produk, underwriting, aktuaria, klaim, investasi, pemasaran, manajemen risiko, reasuransi syariah, kepatuhan, hingga tata kelola perusahaan," ujar Erwin dalam workshop tersebut.
Industri Butuh SDM Lebih dari Sekadar Pemahaman Syariah
Erwin menjelaskan, industri asuransi syariah membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki pemahaman mengenai prinsip-prinsip syariah, tetapi juga memiliki berbagai kompetensi pendukung.
Kompetensi tersebut mencakup kemampuan analitis, komunikasi, pemecahan masalah, literasi teknologi, orientasi pelayanan kepada peserta, serta pemahaman terhadap dinamika bisnis dan regulasi industri jasa keuangan.
Karena itu, menurut dia, diperlukan proses pembelajaran yang mampu menghubungkan classroom knowledge dengan industry practice.
Mahasiswa, lanjut Erwin, perlu mendapatkan kesempatan untuk mengenal kasus nyata, memahami proses bisnis perusahaan, berinteraksi langsung dengan praktisi, mengikuti simulasi pekerjaan, serta mempelajari kompetensi yang benar-benar dibutuhkan perusahaan asuransi syariah.
"Melalui pendekatan tersebut, perguruan tinggi tidak sekadar menghasilkan lulusan yang memahami teori asuransi syariah, tetapi juga talenta muda yang siap bekerja, adaptif, profesional, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan industri asuransi syariah," tuturnya.
Kesenjangan Kompetensi Masih Menjadi Tantangan
Lebih lanjut, Erwin menyoroti salah satu persoalan yang masih terjadi di pasar tenaga kerja, yakni adanya kesenjangan antara ekspektasi pemberi kerja dengan kompetensi pencari kerja.
Menurutnya, sebagian pencari kerja masih menganggap kelulusan akademik, termasuk predikat cum laude, sudah cukup untuk menjadi modal memasuki dunia profesional.
Padahal, kebutuhan industri semakin berkembang dan menuntut adanya kompetensi praktis maupun pengakuan profesional yang relevan.
"Banyak pencari kerja merasa cukup dengan lulus berpredikat cum laude, tanpa dilengkapi gelar profesi atau sertifikasi kompetensi," ungkap Erwin.
Di sisi lain, pemberi kerja mengharapkan kandidat yang direkrut dapat segera beradaptasi dan menjalankan tugas sejak hari pertama bekerja.
Ekspektasi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena perusahaan juga memiliki keterbatasan untuk mengalokasikan waktu dan biaya yang besar untuk memberikan pelatihan dasar kepada karyawan baru.
"Harapan pemberi kerja, setiap kandidat sudah bisa langsung tune-up di hari pertama onboard di perusahaan. Perusahaan pun cenderung enggan mengeluarkan dana dan waktu untuk mendidik calon karyawannya," katanya.
Kampus dan Industri Perlu Bangun Konektivitas
Erwin menilai, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan konektivitas antara perguruan tinggi dan industri. Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga perlu diarahkan agar mahasiswa memahami kebutuhan dan standar dunia kerja.
Menurut dia, mahasiswa perlu dipersiapkan sejak bangku kuliah agar memiliki kombinasi antara pengetahuan akademik, keterampilan praktis, kompetensi profesional, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan industri.
"Menjembatani keilmuan mahasiswa dengan kebutuhan industri merupakan proses membangun konektivitas antara kampus, kompetensi, dan karier," tuturnya.
Dengan demikian, apa yang dipelajari mahasiswa di ruang kelas diharapkan memiliki relevansi langsung dengan tantangan dan peluang yang akan mereka hadapi ketika memasuki dunia profesional.