Lewati ke konten utama
BPR/BPRS 2 Menit Baca

NPL BPR Kota Bandung Tinggi, Walikota Atur Strategi Rubah Pembiayaan

H

Henigun

17 August 2026

NPL BPR Kota Bandung Tinggi, Walikota Atur Strategi Rubah Pembiayaan
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.(Foto: Istimewa)

SEPUTARBANK BANDUNG - BPR Kota Bandung dinilai masih berpotensi untuk dikembangkan, khususnya pada segmen pembiayaan konsumtif.

Total aset Bank milik Pemkot Bandung itu saat ini baru sekitar Rp200 miliar. Untuk itu Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan, Pemkot perlu melakukan penyehatan BPR Kota Bandung, melalui sejumlah langkah, mulai dari perombakan manajemen hingga perubahan arah bisnis.

Farhan menyampaikan, pembenahan menyeluruh ini diperlukan guna mengatasi beban kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang sempat membengkak akibat skema pembiayaan bisnis sebelumnya.

"BPR Kota Bandung sedang kita sehatkan. Kita mulai dengan pembedahan manajemen, rombak total manajemennya," ujar Farhan, Minggu (16/8/2026).

Selain pembedahan internal, lanjut Farhan, Pemkot Bandung berencana memperkuat pilar pendanaan (funding) melalui produk simpanan yang menarik, dengan seluruh tahapan proses pembenahan berada dalam pengawasan ketat Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Guna memitigasi risiko gagal bayar, Pemkot Bandung mengalihkan fokus penyaluran kredit dari sektor modal usaha ke sektor konsumtif skala mikro, seperti pemenuhan kebutuhan peralatan rumah tangga masyarakat.

Mengincar pasar kebutuhan rumah tangga (seperti pembelian alat elektronik atau perlengkapan dapur) dengan sasaran masyarakat berpenghasilan tetap. Ia mencontohkan seperti pembelian panci, kipas angin, hingga mesin cuci.

Penetapan tingkat bunga penarikan dana, kata dia, akan disesuaikan dengan batas maksimum penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar 6,25%.

Farhan menerangkan, strategi penekanan NPL pada model bisnis baru ini, akan mengandalkan pemotongan penghasilan secara langsung (payroll system). Jadi, tanpa adanya jaminan pemotongan gaji secara langsung, pinjaman tidak akan dicairkan.

"Kita berdasarkan payroll. Tidak ada payroll tidak akan keluar (pinjaman). Jadi jaminannya pasti aman dan tarikan dananya juga kita pakai batas maksimum sesuai dengan LPS (6,25 persen),” jelasnya.

Farhan menambahkan, melalui integrasi antara perombakan jajaran manajemen, penguatan tata kelola, dan peralihan ke skema pembiayaan berbasis payroll, BPR Kota Bandung diharapkan dapat kembali tumbuh sehat, stabil, serta berkontribusi optimal bagi masyarakat lokal.

H

Henigun