Lewati ke konten utama
NASIONAL 3 Menit Baca

Indonesia Dorong Kerja Sama Kebudayaan BRICS, Fadli Zon Usulkan 4 Agenda Utama

R

Redaksi

10 August 2026

Indonesia Dorong Kerja Sama Kebudayaan BRICS, Fadli Zon Usulkan 4 Agenda Utama
Foto ; Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menghadiri XI BRICS Culture Ministers’ Meeting di Bhopal, Madhya Pradesh, India, Sabtu (8/8/2026). (ANTARA/HO-Kementerian Kebudayaan)

SEPUTARBANK, JAKARTA — Indonesia mendorong penguatan kerja sama kebudayaan negara-negara BRICS agar semakin inklusif, berorientasi pada masyarakat, serta memberikan manfaat nyata bagi seniman, kreator, dan komunitas budaya.

Dorongan tersebut disampaikan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon dalam XI BRICS Culture Ministers’ Meeting yang berlangsung di Madhya Pradesh, India, Sabtu (8/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Fadli menekankan bahwa kerja sama kebudayaan BRICS harus dibangun berdasarkan prinsip kesetaraan kedaulatan, konsensus, dan saling menghormati.

Menurut Fadli, berbagai tantangan global yang dihadapi saat ini, mulai dari disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim hingga fragmentasi sosial, semakin menunjukkan bahwa kebudayaan memiliki posisi strategis dalam pembangunan.

“Kebudayaan bukan sekadar pelengkap pembangunan,” ujar Fadli, sebagaimana dikutip dari keterangan pers Kementerian Kebudayaan yang diterima di Jakarta, Minggu (9/8/2026).

Ia menilai kebudayaan dapat menjadi fondasi untuk memperkuat ketangguhan masyarakat, mendorong inovasi, memperkuat kohesi sosial, sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Indonesia Usulkan Empat Agenda Kebudayaan BRICS

Untuk memperkuat peran kebudayaan di tengah dinamika global, Indonesia mengusulkan empat agenda utama dalam kerja sama BRICS.

Pertama, pelindungan warisan budaya. Indonesia mendorong peningkatan kerja sama dalam melindungi warisan budaya sekaligus memperkuat mekanisme pengembalian dan restitusi benda budaya.

Kedua, penguatan industri budaya dan kreatif. Indonesia menilai seniman dan kreator harus ditempatkan sebagai pusat ekosistem. Hal tersebut mencakup pelindungan hak kekayaan intelektual serta pemberian remunerasi yang adil bagi para kreator.

Ketiga, pelindungan pengetahuan tradisional. Indonesia mendorong agar sistem pengetahuan tradisional mendapat perlindungan dengan melibatkan masyarakat serta para pemegang pengetahuan secara langsung.

Keempat, menempatkan kebudayaan dalam agenda pembangunan global. Indonesia mengusulkan kebudayaan menjadi tujuan tersendiri dalam kerangka pembangunan global pasca-2030 agar kontribusinya terhadap pembangunan dapat diakui secara lebih jelas dan berkelanjutan.

BRICS Dorong Pemanfaatan AI di Bidang Kebudayaan

Indonesia juga menyambut baik Declaration of the XI BRICS Culture Ministers’ Meeting yang menjadi komitmen bersama negara-negara BRICS untuk menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan strategis.

Deklarasi tersebut mencakup berbagai isu, termasuk penguatan industri budaya dan kreatif, pelindungan hak kekayaan intelektual, hingga pemberian remunerasi yang adil kepada kreator.

Negara-negara BRICS juga mendorong pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) secara etis, transparan, dan bertanggung jawab dengan tetap menghormati keberagaman budaya.

Selain itu, BRICS menegaskan pentingnya dokumentasi dan penelitian provenans serta kerja sama dalam pengembalian dan restitusi benda budaya.

Kerja sama juga akan diperkuat melalui museum, perpustakaan, arsip, pusat manuskrip, serta berbagai institusi kebudayaan lainnya.

Kebudayaan Dinilai Penting untuk Pembangunan Berkelanjutan

Deklarasi BRICS turut menegaskan pentingnya mempertimbangkan kebudayaan sebagai tujuan tersendiri dalam kerangka pembangunan internasional pada masa mendatang.

Menurut Indonesia, langkah tersebut dapat memperkuat posisi kebudayaan sebagai bagian integral dari pembangunan, bukan sekadar sektor pendukung.

Fadli Zon menegaskan bahwa kesepakatan internasional harus dilanjutkan dengan langkah konkret agar memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

“Komitmen yang telah disepakati perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret, berkelanjutan, dan saling menguntungkan. Kerja sama BRICS harus menjadi jembatan yang menghubungkan para kreator, masyarakat, institusi, dan generasi mendatang,” kata Fadli.

Indonesia Perkuat Diplomasi Kebudayaan melalui BRICS

XI BRICS Culture Ministers’ Meeting dihadiri utusan dari sejumlah negara BRICS, antara lain India, Indonesia, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, Brasil, Etiopia, Tiongkok, Rusia, dan Iran.

Pertemuan tersebut juga dihadiri perwakilan Kuba, Belarus, Thailand, dan Kazakhstan sebagai negara mitra BRICS.

Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian BRICS Culture Track 2026 yang membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari industri budaya dan kreatif, hak cipta, kecerdasan artifisial, pelindungan warisan budaya, pengembalian benda budaya, hingga hubungan kebudayaan dengan pembangunan berkelanjutan.

Melalui BRICS, Indonesia terus memperkuat diplomasi kebudayaan sebagai instrumen kerja sama internasional yang dapat memberikan manfaat nyata bagi seniman, kreator, pelaku budaya, institusi, dan masyarakat.

Indonesia juga menekankan pentingnya menerjemahkan kesepakatan internasional menjadi program yang konkret, inklusif, berkelanjutan, serta memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Pewarta: Farhan Arda NugrahaEditor: Maryati/Antara.

R

Redaksi